Teringat masa-masa MI (setingkat SD, red), ketika seorang kawan selalu menyanyikan lagu itu. Dan saya, yang selalu denger menjadi hafal karena terbiasa, tak perduli liriknya memaknakan apa, karena ku hanya insan yang masih polos saat itu
(dan belasan tahun kemudian, saat ini, lagu itu semakin relevan dengan kondisi bangsa ini). Lagu itu berjudul “Perahu Retak” karya Franky Sahilatua.
Perahu negeriku, perahu bangsakuJangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu
Tanah pertiwi anugerah ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah ilahi
Jangan makan sendiri
Ampe sekarang kalo denger lagu itu keinget satu pemandangan ketika pulang sekolah kami selalu bermain di rumah dia (hmm.. tepatnya dirumah neneknya), rama. Ganti baju seragam dengan kaos main dengan tanpa ganti celana, lepas sepatu lantas tidak memakai alas kaki. Selanjutnya diterusin dengan mandi di sungai setail (di samping rumah Lek Repi, salah satu pedagang pasar sempu, selisih beberapa rumah di belakang afan, seorang kawan di MI juga).
Hmm…tentang tepatnya nama lokasi, ahh.. saya lupa, yang pasti di sebelah selatan pas Kedung Julek.
Dan ini sering banget kami lakukan, teringat tawa lepas dan kebersamaan yang tak terganggu sedikitpun dengan tugas sekolah, masalah keluarga, krisis moneter, rusuh irak maupun meninggalnya nike ardila..
Kemaren terdengar berita meninggalnya sang maestro, terima kasih atas karyamu yang luar biasa.. Maaf saya tidak bisa membalas apa-apa, bahkan doa pun saya tida bisa.…….

Kata Mereka